osorezan

meaning rest in people not words


Leave a comment

Sumber Air “Ajaib” yang Terlupakan


Image

Semarang – Kota lama, sebuah kawasan di Semarang yang menyimpan kepingan eksotis dari masa lalu. Tempat ini menyajikan bangunan-bangunan megah bergaya eropa peninggalan zaman penjajahan Belanda. Bangunan – bangunan tersebut seperti menjadi saksi bisu berbagai peristiwa yang terjadi di sekitar kawasan tersebut.

Banyak bangunan bersejarah di kota lama ini yang  selalu menarik hati wisatawan untuk berkunjung seperti Gereja Blenduk, Polder Tawang, Gedung Marabunta , serta masih banyak lagi. Dari sekian banyak bangunan bersejarah di kota lama, nampaknya sebuah sumur di salah satu sudut kota lama tidak terlalu menarik perhatian wisatawan.Banyak yang belum mengetahui tentang sumur yang dibangun sejak zaman penjajahan Belanda ini.

Sumur “ajaib” , begitu saya menyebut sumur itu. Bagaimana tidak, sumur yang terletak di samping taman Gereja Blenduk ini telah ratusan tahun menjadi sumber air bagi warga sekitar kawasan kota lama.Warga memanfaatkan sumur tersebut untuk keperluan sehari-hari seperti air minum,mencuci hingga ditampung di jerigen-jerigen untuk kemudian dijual kembali.

Yasmari (53),salah satu tokoh masyarakat di kawasan tersebut,menceritakan awal mula pembangunan sumur tersebut. “ Jadi dulu waktu zaman penjajahan Belanda sumur itu dibuat untuk sumber air bagi tentara-tentara Belanda di kawasan tersebut,warga tidak diperbolehkan memanfaatkan sumur itu.Lalu ada tokoh masyarakat keturunan Tionghoa yang biasa disapa Mbah Liem membeli sumur itu dari Belanda agar warga setempat bisa memanfaatkan sumur itu. Sejak itu hingga sekarang warga bebas memanfaatkan sumur tersebut untuk keperluan mereka,” terang Yasmari.

Menurut Yasmari berdasar kisah pendahulu-pendahulunya sumur tersebut tidak pernah kering sejak pertama kali dibangun hingga sekarang. Selain itu kualitas air dari sumur tersebut juga cukup baik.

“Bahkan itu orang-orang dari pemerintah daerah yang pakai mobil tangki besar kalau ambil air dari sumur itu juga.Biasanya mereka datang 2-3 kali sehari,” ujar Yasmari.

Salah seorang petugas dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP ) Kota Semarang yang menolak untuk disebut identitasnya,ditemui saat sedang menyedot air dari sumur untuk mengisi mobil tangki dinas,membenarkan pernyataan Yasmari. “ Ya kami ( DKP – red) memang selalu ambil air dari sini,kualitas airnya memang bagus,” ujar petugas tersebut.

Satu hal yang disayangkan Pemerintah Kota Semarang tampaknya kurang peduli dengan keberadaan sumur tersebut dilihat dari kondisinya yang tidak terawat. Sudah sepatutnya semua pihak yang berkaitan saling bekerjasama untuk merawat peninggalan bersejarah yang ada. (SW)

SUMBER : http://kotaatlas.wordpress.com